Jejak Sejarah Marga

PING-PINGEN NDITAK CIBRO

MEJAN/SITUS

Mejan/Situs Cibro Marga Cibro Tinggal Puing

Oleh: Saut Boangmanalu, MM

            Sangat sulit mencari data otentik yang bercerita mengenai asal muasal Marga Pakpak, kebanyakan hanya berupa cerita turun-temurun yang diyakini setiap generasinya mengalami pengurangan huruf, kata bahkan kalimat. Sehingga sering ditemukan dalam sebuah kisah terdapat potongan huruf, kata bahkan kalimat yang tentunya akan mengurangi makna dan arti kata maupun kalimat itu sendiri.

            Nah, pada tulisan ini mengangkat penggalan sejarah Lebbuh Marga Cibro yang ternyata memiliki hubungan sejarah dengan Sisingamangaraja XII sewaktu ia dalam pengejaran Penjajah Belanda hingga ke Tanah Pakpak.   

Jejak Sisingamangaraja XII di Lebbuh Marga Cibro adalah salah satu dari deretan panjang cerita Sisingamangaraja XII di wilayah Tanah Pakpak. Lebbuh Cibro merupakan salah satu Bukti Otentik yang dapat bercerita bagaimana Sisingamangaraja XII memiliki jejak petualang mulai dari kisah perlawanan dengan penjajah, ilmu kebatinan dan bahkan ketokohanya yang mengangkatnya menjadi salah satu pahlawan Nasional.

            Lebbuh Cibro adalah sebutan perkampungan lama yang menjadi asal muasal Marga Cibro (red-salah satu Marga Etnis Pakpak) yang terletak di pinggiran Sungai Lae Kombih Desa Traju Kecamatan Tinada Kabupaten Pakpak Bharat. “Tidak banyak cerita detail yang dapat trungkap saat ini mengenai jejak Sisingamangaraja XII di Lebbuh Cibro karena selama ini tidak ada kesungguhan dari para generasi muda untuk menggali kisah sejarah tersebut” tutur Sondang Cibro, 64 tahun salah seorang putra keturunan (bhs Pakpak Pinempar) Marga Cibro, Kamis, 11/10/2012. Namun bagi Sondang Cibro mengetahui cerita keberadaan Sisingamangaraja XII di Lebbuh Cibro menjadi sangat penting karena brkaitan dengan peranserta nenek moyangnya yang kelak akan diturunkan untuk anak cucunya juga. “Saya sendiri juga belum dapat menceritakan secara lebih mendalam karena disini juga masih ada para orangtua yang lebih tua yang mungkin lebih memahami itu” tuturnya polos.

            Nenek Moyang Marga Cibro pada masa penjajahan dimasa pergerakan Sisingamangaraja XII hingga ke Tanah Pakpak Suak Simsim (red-salah satu suak dari lima Suak Tanah Pakpak yakni Suak Kelasen, Suak Simsim, Suak Kepas, Suak Pegagan dan Suak Boang) sangat dikenal dengan kesaktiannya. Salah satu kesaktian yang ia miliki adalah kemampuanya meremas batu hingga terbentuk menjadi Nditak (Makanan khas Pakpak yang terbuat dari beras kemudian digenggam sehingga membentuk kepalan tangan). Kesaktianya ini menjadikanya menyandang sebutan Ping-pingen Nditak Cibro. Selain itu ia juga sangat dikenal dengan kemampuanya melempar Sulangat (jarring ikan bertangkai bamboo) hingga puluhan KM.

“Jika Sisingamangaraja XII memasuki wilayah ini ia akan mampir dan sesekali  tinggal  beberapa hari di Lebbuh Cibro yang dikawal dengan Biangsa (red-Makhluk halus berwujud patung dan sejumlah pengawal Raja Marga Cibro ketika itu” cerita Sondang Cibro. Demikian halnya dengan penuturan Bantak Cibro berusia 72 tahun, salah seorang tetua Marga Cibro yang kami temui di kediamanya di Traju, Jumat, 12/10/2012 mengutarakan bahwa perihal penjajahan Belanda, Sisingamangaraja XII dan Nenek Moyang Marga Cibro (Mpung Marga Cibro) memiliki persepsi yang sama. “Penjajah dianggap musuh bersama dan harus bersatu menghadapinya” tutur Bantak. Sebutan Pengulubalang (bhs Pakpak=panglima perang/ahli perang) yang disandang Mpung Marga Cibro ternyata sejak lama sudah cukup dikenal di Tanah Simsim, sehingga setiap ada Graha (Perang) dipastikan Mpung Marga Cibro telah dilibatkan.

            Awalnya dituturkan Bantar, bahwa Sisingamangaraja XII sebelum tiba ke Lebbuh Cibro singgah di Lebbuh Pronggil yang nampaknya mendapat penolakan dari masyarakat setempat karena Sisingamangaraja XII dianggap memiliki sifat buruk mengawini putri dimana ia singgah. Sehingga masyarakat setempat secara tidak langsung mempersilahkan Sisingamangaraja XII untuk meneruskan perjalananya dengan melepas sejenis ngengat ke Sisingamangaraja XII.

            Berbeda dengan keberadaanya di Lebbuh Cibro, Bantar menjelaskan oleh rasa hrmat dan rasa segan Sisingamangaraja XII kepada Nenek Moyang mereka sehingga ia tidak berani sembrono apalagi sampai mengawini wanita warga Lebbuh Cibro. Namun disisi lain ternyata Sisingamangaraja XII mampu berkomunikasi dengan baik, sehingga ia bisa memiliki hubungan baik dan bahkan dilindungi oleh Mpung Marga Cibro.

            Lebuh Cibro yang berada diseberang Sungai Lae Ordi, oleh Raja Marga Cibro dengan Sisingamangaraja XII melintas hanya dengan Kite Tobis (red-Jembatan rebung bambu), “Inilah salah satu kesaktian selain mampu meremas batu seperti Nditak (red-Makanan Khas Pakpak) Mpung Marga Cibro, sehingga menjadi salah satu daya tarik bagi Sisingamangaraja XII untuk Mersurah (red-Berbagi ilmu kebathinan) dengan nenek moyang kami” lanjut Sondang. Pada kisah tersebut diceritakan setiap kedatangan pasukan Belanda untuk menangkap Sisingamangaraja XII Biangsa Marga Cibro sudah memberikan informasi dengan goncangan hebat disekitar Lebuh. “Pasukan Belandanya masih di Sukarame sekitar 4 KM dari Lebbuh Biangsa Marga Cibro sudah memberikan tanda itu” tutur Sondang Cibro.

            Masa penjajahan Belanda yang cukup panjang, pada kisah ini terdapat peran Raja Marga Cibro bersama Sisingamangaraja XII melakukan perlawanan, kendatipun kisahnya tidak dapat terurai secara detail bentuk perlawanan dan pergerakan keduanya. Namun posisi wilayah Lebbuh Cibro yang berada diperlintasan Suak kelasen menuju Suak keppas dan Suak Pegagan sangat dimungkinkan adanya peran aktif nenek moyang Marga Cibro ketika itu.

            “Hubungan lebih jauh kedua pimpinan itu konon hanya dapat diceritakan langsung oleh orang pintar yang saat ini sudah hampir tidak bisa dilakukan lagi ditengah tingginya pengaruh agama” terang Sondang dilain pihak. Namun hingga saat ini secara turun temurun keberadaan Sisingamangaraja XII di Lebuh Marga Cibro sudah menjadi cerita lama. Benda-benda sejarah berupa mejan atau situs, biangsa dan keberadaan Lebbuh  pada tahun 1970-an saya sendiri masih menyaksikan keberadaannya, namun sekitar enam bulan setalah pihak Dinas Kebudayaan Pemkab Pakpak Bharat melakukan pemugaran hilang dari lokasi. Mejan yang diduga dicuri orang luar daerah itu berupa Gajah dan Kuda yang ditunggangi nenek Moyang Cibro.

            Pada tahun 1970-an nilai mistis Lebuh Cibro masih sangat terasa. “Siapa yang bicara dan berkelakuan sembrono dilokasi tersebut akan mendapat mara bahaya dan kerap mendapat ancaman dengan kemunculan ular” kenang Sondang Cibro. Secara turun temurun dikisahkan bahwa Lebuh Cibro dikelilingi parit selebar 2 meter dan cukup dalam yang dilengkapi dengan pintu keluar masuk yang disebut Pengkeruhen. Lebuh itu tepat berada diatas Sungai Lae Kombih dengan luas mencapai 2 hektar yang dilengkapi dengan kembang bunga-bunga. “Tidak ada yang bisa keluar dan masuk keculai dari Pengkruhen” paparnya. Sisingamangaraja XII sangat dinyamankan bernaung diwilayah kekuasaan Marga Cibro, dengan pimpinannya yang sakti dan penerimaan masyarakat Raja Cibro yang dianggap welcome terhadap tamu yang datang.

            Ditambahkan Sondang Cibro, hingga saat ini jika ditelusuri dilokasi masih dapat ditemukan Pertulanen berupa piringan terbuat dari batu tempat tulang belulang orang mati setelah dibakar sesuai dengan kepercayaan masa itu. Namun sangat disayangkan Dinas Kebudayaan Pakpak Bharat kurang memberikan perhatian, sehingga saat ini keberadaan Batu pertulanen sudah sangat sulit dipastikan letak posisinya. Dibutuhkan niat dan upaya yang tulus untuk menggali, melestarikan, menjaga dan mengangkat kembali kekayaan Budaya seperti ini baik dari Pemeritah maupun para pemerhati dan penggiat kearifan local.

            Inilah sekelumit kisah jejak Sisingamangaraja XII di Lebuh Cibro. Harapan kepada generasi penerus dapat mengembangkan, menggali dan mempublikasi jejak sejarah tersebut, sehingga dikemudian hari dapat terungkap nilai dan fakta sejarah yang sesungguhnya yang dapat dijadikan nilai perjuangan Sisingamangaraja XII bersama tokoh dan raja-raja di Tanah Pakpak. Sepenggal kisah ini tidak pernah tercatatkan dalam kisah panjang kepahlawanan dan rekam jejak Sisingamangaraja XII.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s