Kepercayaan Lama Masyarakat Pakpak Pakpak Monografi, Kepercayaan Dan Kebudayaan Orang-orang Pakpak Sebelum Masuknya Injil

Kepercayaan Lama Masyarakat Pakpak Pakpak

Monografi, Kepercayaan Dan Kebudayaan Orang-orang Pakpak Sebelum Masuknya Injil
( Oleh Saut Boangmanalu )

Kepercayaan Dan Kebudayaan
1. Agama Sipelebegu/Agama Suku

Menurut Seksi Sejarah Panitia Jubilleum HKBP Simerkata Pakpak Salak dalam Ebenezer Sejarah Kekristenan Di Salak Simsim, memaparkan bahwa sejak mulanya masyarakat suku Pakpak sudah memiliki rasa sosial yang nampak dalam melakukan aktivitas kesehariannya dalam bahasa Pakpak disebut “Mersiurupurup atau rimpahrimpah ataupun Pemerabinabin”. Pada saat menuai padi misalnya dilakukan dengan “Merkua” ataupun mengundang para tetangga ataupun sanak familinya. Merkua dilakukan dengan tradisi mendatangi rumah-rumah tetangga maupun sanak famili tersebut dengan membawa Gatap Napuren (daun sirih dan semacamnya) atau isap (rokok) yang akan diberikan kepada “sinikua” (orang yang diundang).

Menyangkut hukum adat dan tatatertib kehidupan masyarakat adat Prof. Bushar Muhammad S.H (2003:17) juga memaparkan bahwa:

“Dimana ada msyarakat disitu ada hukum adat, inilah suatu kenyataan umum, diseluruh dunia. Hukum adat tumbuh, dianut dan dipertahankan sebagai peraturan penjaga tatatertib social, serta tata tertib masyarakat dalam menjalani kehidupannya….”

Demikian halnya masyarakat Pakpak, memiliki falsafah hukum adat Pakpak yang menyangkut tipologi masyarakat suku Pakpak berbunyi “Nggelluh I kandong adat, mate ikandong tanoh” (terj. Indonesia: Hidup diatur/dikandung oleh adat dan mati dikandung tanah). Inilah yang menjadi salah satu falsafah yang selalu dipegang masyarakat Pakpak. Dan barangsiapa yang melanggar janji atau melanggar adat dapat dikenai sanksi “iseat” atau dipenggal dihulu sungai, hal ini dimaksudkan agar setitikpun darahnya tidak tinggal didarat akan tetapi hanyut sampai kelaut. Hukum ini sudah dijalankan sejak dahulu kala oleh masyarakat suku Pakpak.

Menurut Pdt. J. Th. Panjaitan S.Th (1974) mengatakan bahwa:
“Suatu Kebiasaan yang mengejutkan orang pendatang di Tanah Pakpak yakni jarang berjumpa dengan penduduk tanpa parang di pinggang atau parang ditangan, bahkan dipekan Sihorbo (Suak Pegagan) daging manusia diperjualbelikan dengan harga mahal”

Dari keterangan diatas, diketahui bahwa masyarakat Pakpak ketika itu pada masa Pdt. Samuel Panggabean pertamakali datang ke Kuta Usang pada tahun 1905, saat itu masyarakat Tanah Pakpak masih hidup ditengah keadaan tanpa hukum yang baku, akan tetapi hidup dalam kebebasan menurut keadaan dan aturan-aturan lisan dari sang raja saja.

Demikian halnya dengan kepercayaan masyarakat Suku Pakpak sebelum masuknya Kekristenan di Tanah Pakpak memiliki agama tersendiri yang disebut “Ugama Sipelebegu”. Agama Sipelebegu percaya kepada kekuatan alam, oknum dan jin-jin yang masing-masing memiliki kekuatan tersendiri.

Menurut St. B. T. Tumangger, J.H Manik, dkk. (1986:6-8) mengatakan;
“Bahwa kepercayaan masyarakat Pakpak menyembah Berraspati Ni Tanoh, Tunggung Ni Kuta, Jandi Namora, Berru Sondang, Naga lae yang disebut sembahan ladang (kampung dan mempercayai kekuatan “datu atau dukun” yakni melalui melihat hari, Jandi namora, Rasihen dan Datu sitermurmur (Keabadian) yang disebut “Debata Guru” yang juga disembah.”

Menurut kepercayaan sebagaimana disebut diatas merupakan sebuah inspirasi bagi masyarakat pakpak untuk belajar atau merguru dalam mencapai keabadian. Bahkan para pencari “Datu Sitermurmur” ini akan pergi merantau ke Simalungin, Tanah Karo, Barus dan Aceh. Dan barangkali hal inilah salah satu motivasi awal diaspora masyarakat Pakpak.

Untuk menunjukkan kuasa dukun, banyak terjadi permusuhan antara satu kelompok/kampung masyarakat dengan kelompok kampung yang lain yang disebut “Graha”. Musuh yang paling dibenci ditangkap kemudian dipotong, dan sebagai tanda pelampiasan dendamnya, untuk menunjukkan kemenangan, daging manusia yang terbunuh dapat dimakan. Dan untuk menunjukkan kemenangan dan untuk lebih disegani ataupun dengan maksud agar lebih ditakuti, gigi musuh yang telah terbunuh dicabut dan dipertunjukkan dimuka bangunan sebuah rumah.

Menurut alm. G.Lingga dalam wawancara Salmon Lingga (1983:15) memaparkan:
“Ada pengisi alam yang unik, dimana sebagian orang menganggap kekuatannya melebihi kekuatan manusia, dimana ia harus disembah dan diambil hatinya. Selain itu kejadian-kejadian alam seperti banjir, gempa, penyakit, dan sebagainya yang sangat membahayakan adalah perbuatan “oknum” tertentu yang mempunyai kekuatan (Magi). Sioknum tersebut menurut pemeluk kepercayaan sipelebegu mau datang kerumah dan mempunyai tubuh serta dapat berpindah-pindah. Ia juga berbentuk roh-jiwa tetapi tidak kelihatan dan mempunyai sahala”

Sehingga menurut penganut agama ini sioknum yang memiliki kekuatan tadi harus disembah agar terhindar dari bahaya. Sahala atau disebut singal adalah wibawa, kekuatan, khasiat (magi) dari orang yang telah meninggal misalnya bapak leluhur mereka, orangtuanya dll.

Kepercayaan-kepercayaan seperti tersebut diatas tadilah yang dianut oleh orang-orangtua yang mendiami desa secara terisolir itu dari dahulu kala. Kepercayaan itu telah mendarah daging. Cerita-cerita tentang tata cara penyembahan dan asal mula pengetahuan ahli mimpi dan dukun diperoleh dari suatu pokok kayu besar, seperti yang diuraikan para guru mereka secara turun-temurun telah diceritakan dan menjadi bahan pengetahuan generasi (dukun) berikutnya dan telah menjadi cerita rakyat latarbelakang terjadinya pengetahuan para dukun itu.

Dimana cerita-cerita yang dimaksud akan juga diceritakan secara turun-temurun dan akan teringat bila ada orang yang dirasuk setan (begu-beguan). Cerita tradisi baik agama alamiah, pengobatan alamiah telah mendarah daging dimana telah mempertetap persekutuan mereka (masyarakat Pakpak dahulu) baik marga, desa (kuta), lingkungan, keluarga seolah-olah tidak dapat lagi diganggu gugat dan dipisahkan.

Tradisi seperti ini secara umum terjadi diberbagai daerah di bumi nusantara Indonesia, dimana agama-agama suku dianggap memiliki kebenarannya masing-masing, seperti yang dipaparkan oleh Drs. Djoko Widagdho, dkk (2004:193) yang memaparkan:
“Dalam agama terdapat kebenaran-kebnenaran yang dianggap diwahyukan, artinya diberitahukan oleh Tuhan langsung atau tidak langsung kepada manusia (para penganutnya) ”

4 thoughts on “Kepercayaan Lama Masyarakat Pakpak Pakpak Monografi, Kepercayaan Dan Kebudayaan Orang-orang Pakpak Sebelum Masuknya Injil

  1. Sitakar: sejak dimekarkannya kabupaten pakpak bharat saya kira perkembangannya akan lebih baik dan bahasa Pakpak tidak akan punah jika masyarakatnnya tetap ada dan melestarikan dan tentu ini akan juga dilakukan oleh pemerintah daerahnya.
    Skripsi: konon ceritanya dahulu begitu…

  2. knp masyrakat pakpak itu perkembangan nya sangat lambat??????
    dan saya juga pernah mendengar di TV bahwa sanya bahasa pakpak itu akan segara hilang??????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s